anikamiranti

a beginner music listener
May 31
Permalink

Riau Jazzin’ Blast 2010

Sebelumnya saya minta maaf karena absen menulis selama setahun ini. Banyak yang terjadi, banyak kegiatan baru, dan banyak teman baru membuat saya lupa dengan blogging. Saya akan mencoba untuk lebih disiplin menulis ke depannya. Amiinnn.

Sudah setahun saya tinggal di Pekanbaru dan Riau Jazzin’ Jazz 2010 merupakan acara musik pertama yang saya tonton di sini. Acara dimulai dari siang menampilkan 2 band lokal Pekanbaru, tapi saya tidak menonton penampilan mereka karena saya baru tiba sore hari saat Abdul and the Coffee Theory tampil diikuti dengan Ecoutez, kemudian Andien, yang dalam beberapa lagu tampil bersama Barry Likumahuwa, and last but definitely not least Maliq and D’Essentials. Festival ini mungkin bukan konser musik yang paling bagus yang pernah saya tonton, tapi tetap merupakan angin segar bagi saya yang sudah entah berapa lama tidak menonton pertunjukkan musik.

 

Abdul and The Coffee Theory 

Suara Abdul menyambut kedatangan saya sore itu, sejujurnya saya tidak kenal Abdul and The Coffee Theory, tapi setelah saya baca-baca beberapa artikel band ini ternyata tampil di Java Jazz 2009. Penampilan Abdul cukup menghibur dan lagu-lagu yang disajikan juga cukup menarik. Mereka membawakan beberapa lagu Michael Jackson yang diaransemen ulang dan terbukti berhasil menyita perhatian penonton.

 

Ecoutéz!

Secara technical penampilan Ecoutéz bagi saya merupakan penampilan terbaik malam itu. Semua sound terdengar seimbang dan power vokal Delia juga mampu bersaing dengan instrumen yang lain. Bagi penonton yang hidup di tahun 90an pasti sangat menikmati performance Ecoutéz karena mereka mengcover lagu ‘Dan Senyumlah’ Sinikini, khususnya lagu ini saya sangat menikmatinya. Selain itu Ecoutéz juga membawakanlagu-lagu hits mereka seperti ‘Simpan Saja’, ‘Tunjuk Satu Bintang’, dan ‘Are You Really The One’. 

Dari 4 band yang saya dengar, Ecoutéz merupakan band dengan sound terbaik, cheers untuk sang soundman.

 

Andien feat. Barry Likumahuwa

Seksi mungkin adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan Andien malam itu. Hal pertama yang pertama menangkap indera saya bukan suaranya, walaupun suaranya tetap merupakan aset terbesarnya, tapi penampilannya. Andien tampil casual namun tetap anggun dengan atasan backless, celana pendek high waist, dan sepatu wedges putih yang menawan.

Lama sekali saya tidak mendengar Andien dan akhirnya saya kembali mendengar suaranya yang masih seperti jaman dulu tetap mengagumkan dan komunikasi panggungnya benar-benar rileks tanpa ketegangan, rasanya seperti mengobrol dengan teman sendiri. Andien membawakan ‘Tentang Aku’, ‘Sahabat Setia’, ‘Gemintang’, dan beberapa lagu lamanya yang rasanya seperti nostalgia.

Beberapa lagu terakhir Andien mengundang Barry Likumahuwa ke atas panggung dan seperti yang saya rasa anda semua tah, Barry adalah pemain bass yang sangat handal. He spices the music up dan membuat panggung jadi lebih meriah walaupun tidak berkomunikasi dengan penonton.

 

Maliq and D’Essentials

Penampilan ini yang saya tunggu. Sejak saya masih duduk di bangku sekolah saya sering menonton penampilan mereka di sebuah hotel di Jakarta. Saat masuk ke major label saya sempet beranggapan mereka akan menurun kualitasnya tapi ternyata tidak, yang terjadi hanyalah menjadi semakin bagus.

Saya akui secara technical Maliq bukan yang terbaik, suara gitar dan bassnya terlalu besar dan suara vokalnya terlalu kecil, kadang tempo terdengar agak balapan. Tapi Maliq berhasil menutupi itu semua dengan aksi panggung yang koreografi yang mengagumkan. Karena itu Maliq and D’Essentials tetap saya berikan posisi nomor satu untuk penampilan malam ini.

Maliq membuka penampilannya dengan ‘Blow My Mind’ dan langsung digempur terus dengan lagu-lagunya yang up-beat. Beberapa lagu diaransemen ulang menjadi agak berbeda dari rekaman seperti lagu ‘Terdiam’ yang dikemas lebih berenergi, namun mereka memberikan waktu bernapas, dan beristirahat juga untuk mereka sendiri, dengan membawakan ‘Untitled’, dan ‘Pilihanku’ menutup penampilan mereka malam itu.

 

Festival malam itu cukup menghibur, namun saya perhatikan nampaknya peminat musik jazz di Pekanbaru masih minim karena pengunjung tidak bisa dikatakan banyak. Acara Riau Jazzin’ Blast 2010 ini diadakan di GOR Remaja yang merupakan lapangan basket tertutup, jumlah penonton malam itu mungkin hanya sekitar satu lapangan, cukup sedikit memang tapi saya rasa itu sudah lumayan untuk sebuah permulaan. Semoga semakin banyak acara seperti ini di kota Pekanbaru.

  1. anikamiranti posted this