anikamiranti

a beginner music listener
Aug 17
Permalink

Time For Yourself - Earlimart

you said buying time is useless
when all of the loose ends
get you tied up in knots
it isn’t a question
but more a suggestion
that you’re supposed to move on

if apathy befalls you
and nobody calls you
to see if your heart is alright
the operation will end the frustration
removing the blinders to fly

that we didn’t see the problems
up until the point that we solved them
maybe if we hadn’t looked out on the ocean
we wouldn’t have fallen in
now there’s a letter on the shelf,
baby you need time for yourself
i’ll give it to you
all the rest seems to logically follow

so when your station calls you
please don’t let me stall you
inside i was always prepared
‘cause when we’re together,
in rainier weather,
clouds made our vision impaired

so we didn’t see the problems
up until the point that we solved them
maybe if we hadn’t looked out on the ocean
it wouldn’t have parted, oh
and now the letter on the shelf says
baby you need time for yourself
i’ll give it to you
don’t remember how all of it started

no, we didn’t see the problems
up until the point that we solved them
maybe if we hadn’t looked out on the ocean
we wouldn’t have fallen in
now there’s a letter on the shelf,
baby you need time for yourself
i’ll give it to you
yeah, the rest seems to logically follow, oh oh

Aug 16
Permalink

Death Cab For Cutie Live in Singapore

deathcabforcutie live in singapore

Ini adalah konser kedua dalam 2 minggu liburan saya yang luar biasa, tapi tidak, kali ini saya tidak menonton dari jarak dekat. Tempat duduk saya lumayan jauh dari panggung tapi tetap memberikan pengalaman luar biasa saat menonton band indie-rock Amerika ini.

Pukul 6 lebih sedikit saya dan teman saya telah sampai di Esplanade Concert Hall yang berlokasi di City Hall, Singapore. Gate masih ditutup dan tempatnya masih sepi karena kami datang memang agak kepagian, hanya ada sedikit calon penonton yang sudah mulai duduk-duduk di sekitar lobby. Karena masih sepi akhirnya kami memutuskan untuk makan dulu di tempat makan bernama ‘Makansutra’ sebelah Esplanade. Makanannya lumayan enak, SGD 8 sudah bisa makan berdua. Begitu jam menunjukkan pukul 6.30 kami memutuskan untuk kembali ke venue.

Benar saja, begitu kami tiba gate sudah dibuka dan penjualan merchandise juga sudah dimulai. Kami langsung masuk dan menuju merchandise counter untuk membeli kaus. Penonton belum banyak dan counternya masih lumayan sepi jadi kami bebas memilih-milih. Tapi dalam hitungan menit semakin banyak orang yang berdatangan dan akhirnya dibuat line di depan counter agar lebih tertib.

Tepat pukul 7 pintu masuk hall dibuka, kami pun langsung masuk. Esplanade berbentuk seperti hall Gedung Kesenian Jakarta hanya saja dalam skala yang lebih besar. Terdiri dari 1 lantai floor dan 3 lantai balkon, semua dengan tempat duduk. Tempat duduk kami di lantai 1 dekat mixer.

ben gibbard's effects

chris walla's effects

Death Cab For Cutie membawakan Bixby Canyon Bridge sebagai lagu pertama dengan megah. Semua orang langsung berdiri, kursi-kursi yang tersedia seperti dilupakan begitu saja, namun memang lebih enak menikmati sambil berdiri daripada sambil duduk. Dari tempat saya berdiri sound yang terdengar benar-benar enak, seperti mendengarkan rekamannya saja, namun bila biasanya bass terdengar dominan di, dalam live ini ia terletak di tengah-tengah. Vokal Gibbard terdengar jelas, jernih, sedikit dominan tapi tetap pas proporsinya.

Setelah menggeber dua lagu megah, mereka mulai pelan-pelan menurunkan mood lagunya hingga I Will Follow You Into The Dark untuk kemudian mulai naik lagi lewat I Will Possess Your Heart. Mereka menyelesaikan setnya dengan Sound of Settling, namun lagu tersebut belum terasa klimaks, dan tentu saja setelah tepuk tangan berkepanjangan dan seruan ‘We Want More!’ DCFC kembali naik ke panggung untuk encore.

dcfc live

Dari rangkaian encore yang paling mengesankan adalah Transatlanticism, selain merupakan lagu favorit saya, nampaknya mereka memang menempatkan lagu tersebut di akhir sebagai klimaks konser malam itu. Vokal dan permainan piano Gibbard, serta gitar Chris Walla pelan-pelan membawa penonton naik, hingga akhirnya pelan-pelan mulai masuk drum McGerr dan bass Harmer mulai masuk dan mensupport musiknya. Begitu masuk ke bagian ‘So come oonn… come oonn…’ musiknya terasa benar-benar indah hingga saya hampir meneteskan air mata, hanya saja ada sedikit gangguan dari penonton di row depan saya. Transatlanticism diakhiri dengan penuh emosi dan permainan efek diiringi sorak sorai penonton. Saat penonton sedang sibuk menyoraki penonton saya langsung ambil tas dan menyuruh teman saya berlari keluar, agar dapat mulai antri untuk mendapat tanda tangan DCFC dan tentu saja di luar sudah mulai ramai dan orang-orang mulai berlarian ke arah belakang, untungnya saya kebagian tempat. Jadi kenang-kenangan saya hari itu tidak hanya musik yang mengesankan, tapi saya juga dapat bertatap muka dengan Ben Gibbard, Nick Harmer, Jason McGerr, dan Chris Walla serta mendapat tanda tangan mereka di baju DCFC saya.

dcfc live

Konser hari itu sempurna dari performance, sound, dan teknis lainnya, tapi seperti biasa dari penonton selalu saja ada yang mengganggu. Di row depan saya ada 4 remaja bule kampungan yang selalu bernyanyi dan tepuk tangan di saat yang tidak tepat. Salah satu di antaranya kadang berdiri di atas kursi sambil menari-nari, saya sampai prihatin sama yang berdiri di belakangnya. Tapi ya mau bagaimana lagi, orang memang macam-macam.

Set List:

- Bixby Canyon Bridge

- The New Year

- Why You’d Want To Live Here

- Crooked Teeth

- Photobooth

- Long Division

- Grapevine Fires

- Movie Script Ending

- Company Calls

- Title Track

- Soul Meets Body

- I Will Follow You Into The Dark

- I Will Possess Your Heart

- Cath..

- Styrofoam Plates

- Expo ‘86

- Sound of Settling

Encore:

- Your Bruise

- Title And Registration

- No Sunlight

- Tiny Vessels

- Transatlanticism

Aug 06
Permalink

Toe Live in Jupiter Hall, Malaysia

Toe's ticket

Setiap ada orang yang bertanya ‘gimana toe nik? bagus?’ saya selalu merasa kehilangan kata-kata. Agak sulit menggambarkan perasaan saya pada saat menonton langsung band Jepang ini. Mungkin lebih baik saya cerita dari awal.

Jupiter Hall ini tidak begitu besar, mirip hall Viky Sianipar namun lebih kecil sedikit dan lantainya karpet. Penontonnya tidak banyak, mungkin hanya seratus atau mungkin kurang. Kebanyakan juga merupakan teman dari band-band pembuka.

Acara ini dibuka oleh band dari Singapore, mungkin tidak cocok dibilang band karena orangnya cuma satu, dia bermain gitar dibantu MacbookPro dan keyboard. Saya tidak dengar siapa namanya, tapi lagu-lagunya lumayan bagus, mirip Sigur Ros, Immanu El, Explosions in the Sky. Nantinya saya akan sadar bahwa dia satu-satunya band pembuka yang bagus, lainnya yah anda harus dengar sendiri.

Kemudian disusul band bernama Nao, musik yang dimainkan nampaknya kepingin jadi Battles tapi tanpa arah dan durasi lagunya terlalu lama. Kadang lembut kadang noise. Benar-benar tidak bisa dinikmati, seperti cuma pamer skill saja. Saya pikir habis band kedua ini mungkin akan ada yang lebih bagus tapi harapan saya tinggal harapan. Band ketiga merupakan band punk namanya Killeur Calculator kalo ga salah, nyanyinya teriak-teriak, lagunya sangat pendek, dan selalu berhentinya gantung. Setelah band ini saya tidak repot-repot mendengarkan yang selanjutnya.

Setelah band kelima habis bermain akhirnya saya melihat crew Toe mulai memindah-mindahkan drum dan memasang alat. Nampaknya crew Toe terdiri dari 1 manager, 1 tukang angkat-angkat barang, dan 1 teknisi. Si teknisi ini mengurus semuanya, dari memasang gitar, bass, menyetem gitar, menyetem bass, memastikan drum setnya ok, mengurus mic, mengeset efek dan lain-lain sebagainya. Namun drummer Toe, Kashikura Takashi, memasang snare drum dan menset alatnya sendiri. Panggungnya diset setengah lingkaran (mirip seperti di RGBDVD, hanya saja di RGBDVD mereka berbentuk lingkaran penuh), semua bermain di depan jadi set drum dimajukan sedemikian rupa dekat dengan gitar, bass, beserta ampli-amplinya.

Guitar effects

guitar effects

Awalnya saya berencana maju ke depan untuk memotret mereka kemudian kembali ke belakang agar bisa mendapat sound yang bagus, namun ternyata sound di depan panggung sangat bagus sehingga saya mengurungkan niat saya untuk kembali ke belakang. Sebelum Toe naik ke atas panggun MC meminta agar semua penonton mematikan flash kameranya, karena sang artis meminta demikian.

Toe memainkan intro sebagai pembuka kemudian jeda sedikit dan langsung masuk ke Kodoku No Hatsumei. Mereka membawakan semua lagu dari The Book About My Idle Plot On A Vague Anxiety dan beberapa dari New Sentimentality dan Songs, Ideas We Forgot. Tulisan ini akan sangat panjang kalau saya menjelaskan semua lagu. Masalahnya semua lagu yang dimainkan terdengar luar biasa. Untuk yang sudah pernah menonton RGBDVD pasti bisa membayangkan bagaimana performance mereka. Mereka bermain penuh emosi, terlihat benar musik yang dimainkan dari dasar hati, chemistry dalam band tersebut benar-benar terpancar lewat setiap instrumen.

Toe

Mereka tidak komunikatif. Sepanjang konser hingga akhir gitarisnya hanya berkata ‘Thank you for coming’ dan ‘Please no more photo please just listen please’. Sekedar info deretan paling depan penuh dengan orang-orang yang membawa kamera digital SLR dan mereka sibuk mengambil gambar.

Lagu yang paling saya tunggu adalah Past And Language dan mereka menempatkan lagu tersebut di urutan bawah dari set listnya. Toe membawakan lagu ini, kalau menurut saya, 10 kali lebih bagus dari yang di rekaman. Perjalanan lagu ini sampai klimaks dan berakhir benar-benar terasa emosinya. Drummernya benar-benar jempolan, saya hampir tidak bisa menuliskan perasaan saya saat mendengar mereka membawakan lagu ini.

Toe

Toe memainkan sekitar 15 lagu dengan 1 encore. Mereka membawakan Goodbye sebagai lagu terakhir yang tentu saja disambut cukup meriah. Sang gitaris memainkan gitar akustik sambil bernyanyi. Dan ya rasanya pun bukan main bagus. Mungkin konser ini merupakan salah satu konser yang paling perfect yang pernah saya tonton, bukan dari segi acaranya, tapi dari performance bandnya. Saya tidak menyesal jauh-jauh datang dari Indonesia, terbang sendirian, dan kepanasan selama di Malaysia, yang penting saya bisa menonton Toe.

Saya lupa urutan pasti set listnya tapi mungkin kurang lebih seperti ini.

Set List :

- Intro

- Kodoku No Hatsumei

- Tremolo + Delay

- Mukougishi Ga Shiru Yume

- Velvet Blanc

- Dance

- Leave Word

- C

- I Do Still Wrong

- Everything Means Nothing

- All I Understand Is I Don’t Understand

- Past And Language

- Tsunagaru Haruka Achira

- Goodbye

- New Sentimentality

Encore:

- Path

Jul 20
Permalink

Duet Victor Borge and Leonid Hambro playing The Minute Waltz - Frédéric Chopin

Permalink

Victor Borge playing Hungarian Rhapsody No. 2 - Franz Liszt

Permalink

Piano Recital Vitaly Pisarenko

Vitaly Pisarenko

Sedikit cerita tentang Pisarenko, ia mulai bermain di hadapan penonton pada umur 6 tahun. Ia pertama kali belajar musik di sebuah sekolah musik di Kiev dan Kharkov. Tahun 2005 ia melanjutkan ke Moscow State Conservatory untuk belajar di bawah bimbingan Yuri Slesarev. Ia mengikuti program Post Graduate di Codart, the Rotterdam Conservatory di bawah bimbingan Aguiles Delle Vigne. Ia pernah mendapat 3rd Prize, Audience Prize dan Special Prize of Fazil Say at the 5th Liszt Competition Weimar tahun 2006 sebelum akhirnya pada tahun 2008 ini ia mendapat 1st Prize pada International Franz Liszt Piano Competition.

Saya sangat senang menonton konser ini, selain karena saya bisa bertemu dengan teman-teman lama dan guru saya saat saya masih les di YPM dulu, saya juga sangat menikmati permainan Pisarenko. Yang paling mencolok untuk saya adalah power dan interpretasinya. Ia bisa bermain berat tapi juga bisa seringan kapas. Saat memainkan dinamik ppp dia seakan memainkan pppp tapi bukan dalam arti negatif justru ini membuat lagu yang dimainkan semakin indah.

Konser dibuka dengan sambutan wakil Erasmus Huis dan director International Franz Liszt Competition. Dalam sambutannya dikatakan ada perubahan susunan program dikarenakan cedera jari tangan Pisarenko. Begitu Pisarenko memasuki panggung terlihat jempol tangan kirinya dibalut plester putih. Sebenernya saya khawatir konsernya akan jelek karena cedera tersebut, namun hingga selesai semua lagunya dimainkan dengan sempurna.

Ia membuka dengan Valse Impromptu yang dimainkan dengan ringan. Dulu guru piano saya selalu bilang piano adalah partner kita di atas panggung dan boleh dibilang saya melihat realisasi dari kalimat itu pada konser Pisarenko kemarin. Kadang-kadang saat bermain bagian yang dinamiknya pp ato ppp saya suka takut pianonya tidak berbunyi, hasilnya saya mengeluarkan tenaga agak kebesaran dan dinamiknya jadi ngaco. Tapi Pisarenko bermain seolah dia percaya dalam keadaan apa pun pianonya akan mengeluarkan suara yang pas. Kalau ditonton kelihatannya lagunya jadi tidak susah.

Dari set list yang dimainkan lagu yang paling sering saya dengar adalah Hungarian Rhapsody no.2. Saya cukup menantikan lagu ini. Pisarenko memainkan lagu ini dengan bersih (pedalnya tidak kotor) seperti tidak pakai pedal. Dan dia bermain tidak megah seperti yang biasa dimainkan orang-orang lain. Menurut saya interpretasinya sangat pas, powernya pun terasa pas tidak terlalu pamer.

Yang agak mengganggu di konser ini adalah membludaknya penonton. Saking banyaknya sampai ada yang duduk di tangga panggung. Keberadaan anak-anak kecil berisik juga cukup mengganggu dalam konser kali itu. Boleh dibilang ini adalah resital piano paling crowded dan paling tidak beraturan yang pernah saya tonton. Tapi di samping itu semua permainan Pisarenko cukup untuk mengobati semua hal yang mengganjal malam itu.

Program :

- Valse Impromptu - Franz Liszt

- Polonaise No. 2 - Franz Liszt

- Sonetto 104 del Petrarca - Franz Liszt

- Valse de l’opera Faust de Charles Gounod - Franz Liszt

- Vallee d’Obermann - Franz Liszt

- Standchen - Schubert/Liszt

- Hungarian Rhapsody No. 2 - Franz Liszt

Jul 07
Permalink

Toe's Tickets on Sale

toe "south east asia tour"

Toe “South East Asia Tour” Live in Malaysia

Date  : 3 Agustus 2008

Time  : 8 pm

Location  : Ruums Club, Kuala Lumpur, Malaysia

Tix Price  : RM 80 (pre event) / RM 100 (on the spot)

Untuk anda yang menunggu-nunggu, penantian anda akhirnya membuahkan hasil. Silahkan klik di sini untuk membeli tiket konser Toe.

Jul 03
Permalink
You’re handicapped only if you choose to be
— NN
Permalink

Death Cab For Cutie Live in Singapore on 12 Aug

death cab for cutie

Berita menggembirakan selanjutnya datang dari band indie rock asal Amerika, Death Cab For Cutie. Mereka dijadwalkan akan tampil di Esplanade Concert Hall, Singapore, tanggal 12 Agustus mendatang.

Tiket telah dijual mulai tanggal 27 Juni kemarin, tapi dua hari setelah itu ketika saya iseng mengecek sistic nampak semua seat price berwarna merah alias sold out. Ada gosip yang menyatakan bahwa tiket akan kembali dijual seminggu sebelum acara berlangsung, tapi kalau dilihat di website resminya nampaknya tiket benar-benar sold out. Untung saya sudah beli.

See you there Death Cab For Cutie lovers!

Permalink

Toe : Live in Malaysia on 3 Aug

toe

Maaf karena tidak menulis dalam waktu yang cukup lama. Saya agak sibuk akhir-akhir ini. Berita tentang konser Toe di Malaysia ini mungkin sudah agak basi. Namun saya tetap ingin mempostnya karena saya merupakan salah satu penggemar Toe.

Harga tiket konser ini belum saya temukan dimana-mana, tapi jadwalnya sudah keluar di website Toe. Ayo mari berburu tiket ke Malaysia.

Jun 23
Permalink
Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present.
— Oogway, Kung Fu Panda (2008)
Apr 30
Permalink

P.S. I Love You

P.S. I Love You

Karena gagal menonton bersama Mita di hari Senin, akhirnya Selasa pagi jam 10 saya menonton P.S. I Love You sendirian. Mita bilang film ini sedih, jadi saya menyiapkan bantal besar, untuk menghapus air mata saya yang mungkin sedikit menetes.

Film ini (menurut saya dan Mita) film cewek banget. Ceritanya tentang Holy yang ditinggal mati suaminya karena sakit. Sebelum meninggal suaminya meninggalkan beberapa surat agar Holy bisa bangkit dari kesedihannya. Film ini manis, simple, dan menguras air mata. Pada bagian akhir film saya sempat mengira akhirnya akan tipikal film-film Holywood yang happily ever after, ciuman sama cowo, dapat pacar baru dan lain-lain, tapi ternyata tidak, dan itu bahkan membuat film ini lebih berkesan dan lebih menguras air mata.

Untuk para wanita saya sarankan nonton film ini. Untuk para pria ya coba aja ditonton tapi saya khawatir kalian akan jatuh tertidur karena bosan. Saya menghabiskan sekitar seperempat rol tissue, prediksi saya menghapus air mata dengan bantal agak meleset, karena air mata saya mengalir seperti kran bocor. 

Permalink

Video Night Dan PLN

Dari hari Jumat lalu saya sudah merencanakan untuk nonton dvd di rumah bersama teman baik saya, Mita. Dia akan pulang ke Jakarta pada hari Minggu, jadi kami akan menonton dvd di rumah pada hari Senin. Saya menjemputnya di BCA Fatmawati jam 10 pagi hari Senin. Kami berniat ke Carrefour Lebak Bulur beli makanan kecil, Milo, Jelly dan tepung untuk membuat brownies bersama di rumah saya.

Sampai di rumah kami langsung sibuk membuat jelly dan brownies. Mita sibuk membuat jelly dan saya menyiapkan bahan-bahan untuk membuat brownies. Dan seperti perempuan pada umumnya, kami masak sambil mengobrol dan bergosip. Acara memasak ini diwarnai dengan kecerobohan seperti saya menyuruh Mita memasukan gula halus ke campuran tepung padahal seharusnya gula halus itu dikocok dengan telur sehingga kami musti menyendoknya perlahan supaya untuk menyelamatkan sebanyak-banyaknya gula halus atau saat saya terlalu heboh memasukan bongkahan mentega ke dalam bubuk coklat menyebabkan coklat itu berlompatan dan masuk ke baskom tepung. Mita nampaknya terhibur dengan segala kecerobohan yang saya buat. Tapi akhirnya brownies tersebut jadi dengan sukses. Begitu juga dengan jellynya yang sudah dimasukkan ke lemari es.

Akhirnya semua siap untuk acara menonton dvd yang menyenangkan. Hanya satu lagi yang musti dilakukan oleh Mita, dia musti mengirim pekerjaan ke seseorang di Bandung. Kami naik ke lantai atas untuk memakai internet, sambil mengobrol ia mulai mengattach pekerjaannya. Dan dalam hitungan detik semuanya mati. Bukan kiamat, tapi hampir.

Listrik rumah saya padam sepadam-padamnya. Reaksi Mita adalah tertawa, reaksi saya adalah lolongan kekecewaan. Saya langsung buru-buru mau menelpon PLN, tapi telepon di rumah saya semuanya fax, jadi saya mencari telepon yang bisa digunakan dulu. Akhirnya saya mendapat sebuah telepon yang hanya berupa receiver. Jadi saya mendial nomor menggunakan handphone. Saya sudah tersambung dengan PLN (dijawab mesin tentu saja), saya menekan angka 2 untuk keluhan pelanggan dan menurut mesin tersebut saya sedang dalam antrian ke-2 untuk berbicara dengan operator. Sambil menunggu saya mengobrol dengan Mita. Nampaknya gerak tubuh saya agak terlalu heboh karena tiba-tiba kabel teleponnya copot. Mita tertawa lagi sedangkan saya dongkol setengah mati. Setelah itu saya tidak berhasil tersambung dengan PLN lagi. Jam menunjukkan angka 2.45.

Akhirnya jam 3.30an saya terhubung dengan PLN dan mereka mengatakan KAMI HARUS MENGADAKAN PEMADAMAN DI DAERAH BINTARO DAN SEKITARNYA. Saat saya tanya kenapa tidak ada pemberitahuan, operator menjawab TIDAK ADA PEMBERITAHUAN KARENA PEMADAMAN KALI INI BERSIFAT URGENT. Jadi saya memutuskan kita keluar rumah saja, akhirnya sisa hari itu dihabiskan dengan obrolan dan gosip dan curhat tentunya di Warung Pasta Kemang.

Apr 27
Permalink

Movie Marathon

Karena tidak jadi nonton Radio Dept. di Bandung akhirnya saya membeli 3 dvd untuk menghibur diri dan mengisi waktu luang, sekaligus melunaskan hutang-hutang nonton yang sudah lama saya tunda. Awalnya saya berencan menonton sekaligus pada hari Sabtu pagi, tapi karena beberapa hal akhirnya saya cuma nonton 2 film.

Into The Wild 

Photobucket

Film pertama yang saya tonton adalah Into The Wild garapan Sean Penn. Saya rasa banyak yang sudah menonton film ini, bahkan mungkin sudah merekomendasikan kepada orang lain atau menulis reviewnya.

Untuk yang belum menonton, film ini menceritakan perjalanan Chritopher Johnson McCandless yang bertekad tinggal dekat dengan alam dan jauh dari kehidupan perkotaan yang materialistis. Film ini alurnya maju mundur, menceritakan latar belakang si pemeran utama dan perjalanannya.

Saya menangis sedikit pada akhir film ini. Kemudian naik ke atas dan search di Google tentang Christopher Johnson McCandless. Yang saya temukan tidak jauh beda dengan filmnya. Tapi saya jadi tertarik membeli dan membaca bukunya. Saya penasaran dengan apa yang ada di benaknya. Saya tidak tahu apakah Chris McCandless memang orang yang berkeinginan kuat atau dia adalah korban dari unhappy family yang tidak bisa beradaptasi dengan baik dengan keadaan dan kemudian jadi mentally ill.

Film ini bagus, membuka pikiran kita, dan saya sarankan semua orang menontonnya.

August Rush

Photobucket

Film berikutnya yang saya tonton adalah August Rush. Nampaknya saya salah menyusun set list film. Karena menonton film ini setelah Into The Wild rasanya seperti anti-klimaks. Tapi yasudalah film ini tetap merupakan suguhan yang menarik kok untuk anda yang menyukai musik.

Film ini tentang anak laki-laki yang tinggal di panti asuhan, yakin dia masih memiliki ayah dan ibu yang akan dia temui lewat musik. Film banget memang, tapi cukup menghibur.

Mungkin karena saya menontonnya setelah Into The Wild saya merasa cerita film ini biasa-biasa saja. Tapi yang menarik adalah musiknya. Saya suka mendengar saat Lyla yang seorang Celoist mengadakan konser bersamaan dengan Louis yang seorang pemain gitar dan vokalis mengadakan pertunjukkan. Lagunya diputar sedemikian rupa sehingga terasa satu lagu.

Saya juga sangat menyukai suasana saat Louis bermain gitar, Evan bermain gitar, Lyla bermain cello, choir gereja sedang latihan, dan moment-moment musikal lainnya. Yang paling saya suka adalah saat Evan belajar di Juiliard. Itu seperti mengembalikan impian saya saat masih les piano setahun yang lalu. Sampai saat ini cita-cita itu masih ada hanya tidak se’panas’ tahun lalu.

Kedua film ini memiliki daya tarik yang berbeda. Saya menyukai Into The Wild karena merupakan kisah nyata. saya suka true story yang penuh dengan teori-teori psikologis. August Rush menarik karena musiknya yang menghidupkan film ini. Satu film yang tidak jadi saya tonton adalah PS I Love You. Saya tidak jadi menontonnya karena seorang teman dekat saya, Mita, mengajak nonton bersama di rumah saya hari Senin besok. Saya harap film ini sama bagusnya dengan kedua film yang saya tonton hari Sabtu. 

Apr 23
Permalink